Karena bagi bumiku, kamu itu kembang api. Yang bikin rasa meledak untuk kemudian bikin kagum, namun hanya sekejap dan menghilang begitu saja. Lalu, aku dipaksa untuk siap kecewa menerima, bahwa segala yang indah memang selesai dengan cepat.

Anak yang Kehilangan Rumah

Anak-anak yang kedua orang tuanya berpisah sering ngalamin luka batin. Gimana batinnya gak terluka? Anak belajar soal cinta dan kepercayaan paling dasar itu ya dari ‘ortu’nya, dr keluarganya, dari rumahnya.

Kalau ‘ortu’nya sering bertengkar dan berpisah, tentu saja soal cinta & kepercayaan anak jadi terkoyak.

Akibatnya, anak sering merasa insecure, mudah marah, dsb.

Anak kehilangan “rumah”. Dan ia akan mencari cinta, kepercayaan, penerimaan, dan kenyamanan di luar rumah.

Parahnya, bisa terjerumus dalam pergaulan yg gak sehat, tawuran, narkoba dan seks bebas. Dan kelak kalau menikah, bisa jadi mengandalkan perceraian juga buat solusi masalah. Itu akan berdampak ke anaknya lagi. Jadi semacam luka batin yg turun temurun, seperti rantai yang ga berkesudahan.

Kenapa aku ikut bersuara soal ini? Karena posisiku sebagai anak. Dulu pun aku sangat marah sama keadaan. Ga terima! (dulu masih kecil dan belum ngerti), juga saling menyalahkan pihak yang terkait ga akan menyelesaikan masalah.

Semuanya ikut bertanggung jawab. Bahkan dikesadaran yg mendalam, kita semua ikut andil sehingga tercipta keadaan seperti ini.

Anak-anak terlahir berbekal sayap. Mereka gak pernah memilih lahir dengan kedua ‘ortu’ yang pincang, sehingga mereka kehilangan “rumah”.

Namun entah bagaimana caranya, mereka terus belajar meski tertatih, bahwa keadaan seperti ini adalah cara indah alam semesta buat menguatkan bulu-bulu disayapnya, sehingga mereka bisa terbang tinggi menjulang di angkasa berselimutkan cinta.
#Tiska2K17